CARA-CARA MENTAUHIDKAN ALLAH

Mentauhidkan Allah berdasarkan pengetahuan dan ketetapan. Hal ini mencakup tauhid rububiyah nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT. Mentauhidkan Allah dalam tuntutan dan tujuan. Hal ini mencakup keharusan mentauhidkan Allah dalam segala ibadah seperti mentauhidkan Allah dalam doa khauf raja’ tawakkal kecintaan ketakutan kekhusyuan kekhawatiran penyerahan diri memohon pertolongan memohon perlindungan memohon petunjuk menyembelih binatang dan nadzar. Allah SWT berfirman yg artinya “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali utk menyembah kepada-Ku.” . “Hai manusia sembahlah Tuhanmu yg telah menciptakanmu dan orang-orang yg sebelummu agar kamu bertakwa.” . “Dan Tuhanmu berfirman ‘Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku akan perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yg menyombongkan diri dari menyembah Aku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dan dihinakan’.” . “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yg beriman.” . “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya.” . “Katakanlah ‘Sesungguhnya salatku ibadahku hidupku dan matiku hanyalah utk Allah Tuhan semesta Alam.” . Selain mencakup hal-hal tersebut di atas tauhid jenis ini mencakup pula kewajiban utk mengikuti sesuatu yg telah disyariatkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya berupa hukum halal dan haram dan mengingkari syariat-syariat lainnya yg dikategorikan syariat jahiliyah. Karena mengikuti atau tunduk kepada makhluk dalam masalah hukum halal dan haram yg tidak didasarkan kepada ketetapan Allah termasuk syirik besar yg menyebabkann pelakunya dianggap sebagai orang yg murtad . Hal ini sebagaimana disinyalir oleh Allah SWT dalam firman-Nya “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan al-Masih putera Maryam padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yg mereka persekutukan.” . Allah berfirman “Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yg mensyariatkan utk mereka agama yg tidak dizinkan Allah?” . Allah SWT berfirman “Apakah hukum jahiliyah yg mereka kehendaki dan siapakah yg lbh baik daripada Allah bagi orang-orang yg yakin?” .

22

Beriman kepada Rasulullah saw dan membenarkan berita yg dibawanya. Keimanan jenis ini mencakup beriman kepada para nabi para rasul kitab-kitab suci yg diturunkan para malaikat hari akhir takdir yg baik dan buruk. Demikian juga dalam ketaatan kepada Rasulullah saw mencakup ketaatan kepada perintah dan larangannya dan mengikuti syariat yg dibawanya.

Menolong orang beriman dan memusuhi orang-orang kafir dan membebaskan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang yg melakukan kemusyrikan. Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata “Orang yg menaati Rasulullah saw dan mentauhidkan Allah maka tidak diperbolehkan baginya utk menolong orang yg menentang Allah dan Rasul-Nya walaupun orang itu termasuk keluarganya yg paling dekat sekalipun. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya ‘Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yg beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dgn orang-orang yg menentang Allah dan rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yg telah Allah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dgn pertolongan yg datang dari pada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam sorga yg mengalir di bawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah yg beruntung’.” .

Semua pokok-pokok keimanan tersebut di atas tercakup dalam jawaban Rasulullah saw ketika Jibril as bertanya kepadanya tentang masalah iman maka beliau menjawab “Engkau beriman kepada Allah malaikat-Nya kitab-kitab-Nya rasul-rasul-Nya hari akhir dan qadha yg baik maupun yg buruk.”

Sumber Al-Jahlu bi Masaailil I’tiqaad wa Hukmuhu Abdurrazzaq bin Thahir bin Ahmad Ma’asy Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia.

0 komentar:

Poskan Komentar